Copyright © 2008 IITTS Publications. All rights reserved
NTT Knowledge Portal - Knowledge for NTT Development - Institute of Indonesia Tenggara Studies
Seminar Sejarah Untuk Masyarakat Tanpa Sejarah

      SEJAK Tahun 1950-an semua ilmuwan sosial, sejarah, sosiologi, dan antropologi, merasa tidak puas denga pendekatan sejarah ketika membicarakan
Indonesia. Sejarah Indonesia dilihat dari kacamata Eropa dan sehingga menjadi Eropa-sentris. Kedatangan bangsa Eropa dan kebudayaannya yang dibawanya
menjadi puncak dari perkembangan sejarah, dampaknya penjajah bukan menjadi penjajah.
      Hal itu disampaikan oleh Dr. Daniel Dhakidae dalam seminar bertema ”Sejarah Untuk Masyarakat Tanpa Sejarah, Kasus Indonesia Timur” yang digelar Pusat
Studi Kawasan Timur Indonesia (PSKTI) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) bekerjasama dengan Program Pascasarjana-Studi Pembangunan UKSW di
Ruang Probowinoto, Jumat (8/8) siang. “Karena itu coba ditulis sejarah dengan Indonesia sebagai titik pusat, namun hingga kini tidak terbit satu-pun buku ilmu
sosial, sejarah, dan orientasi yang berarti” katanya.
















      Kemudian upaya tersebut dilakukan oleh Nugroho Notosutanto yang menulis sejarah Indonesia mutakhir dengan militer sebagai titik pusat. Namun penulisan
sejarah itu justru menyakitkan. Sebagai contoh sering terdengar militer “memenangkan” perang kemerdekaan dengan mengusir “Belanda”.
      “Semua tahu tidak ada perang bsar yang dimenangkan oleh militer Indonesia. Perang Surabaya tidak dikerjakan militer tetapi inisiatif sipil dengan laskar-laskar
sebagai tulang punggungnya, tanpa persetujuan Batavia (Jakarta). Lalu serangan umum 11 Maret jelas-jelas tidak dimenangkan militer, dan Belanda tidak pernah
diusir tentara Indonesia untuk memerdekakan Indonesia”, paparnya.
      Dalam topik “Sejarah untuk Masyarakat Tanpa Sejarah” yang diangkat Daniel cukup menarik peserta seminar yang dihadiri pula oleh Rektor UKSW Prof.Dr.
Kris Herawan Timotius itu. Titik tolak sejarah hanya mungkin bila masyarakat sudah mampu menulis tentang masyarakatnya sendiri. Kemudian bagaimana
merekonstruksi kejadian yang merupakan sejarah dan telah berlangsung ratusan tahun lalu.

Sangat Terbatas

Ketua PSKTI UKSW Dr. Marthen Ndoen mengatakan, peluang untuk menciptakan sejarah lokal di Indonesia timur terbuka lebar setelah reformasi. Meski sejarah
oral yang berkembang di kawasan timur Indonesia memiliki sejumlah kelemahan dibandingkan sejarah tertulis. Hal ini masih memungkinkan untuk digali.
Sedangkan Wilson M.A. Therik, Peneliti PSKTI UKSW dan Mahasiswa Program Doktor Studi Pembangunan UKSW menceritakan pengalaman dirinya melakukan
penelitian di Pulau Rote. Yang terkait sejarah perlawanan masyarakat Desa Bo’a Nusak Delha terhadap Negara di Pulau Rote, NTT. Dia menerangkan berbagai
proses untuk mendapatkan data dan informasi dari masyarakat sekitar dengan pendekatan sejarah lisan (oral history), serta literatur untuk menulis sejarah kejadian
tersebut.


Pusat Studi Kawasan Timur Indonesia
Universitas Kristen Satya Wacana


Helty L. Mampow, S.Pd.,M.Si
Sekretaris
Press Release
PUSAT STUDI KAWASAN TIMUR INDONESIA
Universitas Kristen Satya Wacana
Jl. Diponegoro No. 52-60 Salatiga 50711 Indonesia
Telp. (0298) 321212 (hunting) ext: 464
Fax. (0298) 321433
www.uksw.edu
Foto: Dari kiri ke kanan: Theo Litaay, S.H.,LL.M
(Moderator); Daniel Dhakidae, Ph.D (Pembicara
Utama) dan Wilson M.A. Therik, S.E.,M.Si
(Pembicara)