Nominasi Calon Penerima 2012 telah di tutup.
Kriteria NTT Academia Award 2012 dibuat total
berubah dari sisi kualitas dibandingkan tahun-tahun
sebelumnya.
Untuk proses nominasi, siapa saja, baik
perorangan maupun kelompok, berhak memberikan
calon-calon yang memenuhi kriteria di atas berdasarkan
kategori yang disiapkan dengan menyertakan profil dari para
nominator dimaksud. Panitia menunjuk 4 orang tim juri yang
bertugas mengumpulkan dan menguji validasi data dan
informsi mengenai para calon pemenang.


Kategori Penghargaan tahun 2012 dibuat
berbeda dari tahun-tahun sebelum terutama
dalam hal kriteria dan kualitas pemenang.

4 Kategori NTT Academia Award 2012 adalah:

Lifetime achievement:

Kriteria utama adalah sumbangsih bagi perkembangan NTT
dalam sepanjang hidup si calon NTT Academia Award yang
dinominasikan. Sumbangsih ini bisa sebuah kontribusi yang
konsisten dan berharga dari sisi leadership, pengetahuan,
inovasi semasa memimpin, dan sebuah sosok yang telah
menyatukan NTT. Sebuah pribadi yang unggul dan menjadi
inspirasi bagi generasi masa depan NTT. Seorang pahlawan
bagi NTT.

Social entrepreneur:
Kategori ini kita berikan pada 1 calon yang secara scoring
paling tinggi dalam hal: a. Soal orisinalitasi idea perubahan
sosial yang dilakukan ditingkat komunitas dan skala pengaruh
secara geografis; b. Konsisten dalam menjadi sosial
entrepreuner dan terpanggil tanpa pamrih menjadi agent of
change yang secara konsisten melakukan advokasi yang
bertujuan untuk perubahan kualitas hidup masyarakat. c.
Memiliki karakter kepimpimpinan formal/informal yang
mampu memberikan insiprasi bagi generasi muda saat ini. d.
Berpotensi terlibat dan inovasi sosialnya dapat
direplikasikan yang potensi manfaatnya tinggi.

Science and engineering:

Kriteria utama adalah ilmuan NTT (entah yang berbasis di
NTT - kita berikan nilai lebih bagi mereka yang tinggal dan
hidup bagi NTT di NTT) dan konsisten pada bidang kajian
tertentu yang dibuktikan dengan daftar publikasi dan validasi
publikasi di journal akademik nasional dan internasional. Bisa
juga berbentuk paten (untuk Engineering). Baik karya
akademik dan sains/engineering harus dibuktikan dengan
daftar publikasi dan dapat di validasi. Quantitas publikasi,
kualitas spt level of publication (journal kelas atas di
bidangnya), tingkat citasi dsb. Dan bidang karjain itu
berpotensi bermanfaat bagi orang banyak di NTT [kita belum
bicara policy change di sini karena selalu ada jarak antara
praktek dan scientific achievement. Tetapi kita bisa
tambahkan 1 kriteria soal potensi penerapan bagi
pembangunan.

Sastra dan humaniora:
Pencapaian di bidang ini didedikasikan bagi mereka yang
tinggal di NTT maupun mereka asal NTT yang tinggal di luar
NTT tetapi berkarya sastra tentang NTT maupun lainnya
dan mampu berkarya secara konsisten di bidang kesastraan
dan humaniora. Calon pemenang memiliki reputasi karya
yang mumpuni di bidang ini dengan bukti-2 klaim media dan
daftar karya sastra yang jelas serta dapat dipertanggung
jawabkan.
NTT Academia Award
2007-2012 NTT Scientific Prize
Profil Zeth Malelak PDF;  Profil Ibu Yofita Meta PDF; Profil All Nominee PDF
NTT Academia Award 2008 in the Press

Opini Dominggusl Elcid Li (PK, 22/12-2008) "
Apa Yang Sudah Dibuat - Refleksi Buat Forum Academia NTT).; Opini Fary Franscis (PK 20/12-2008): Strong MindWeak Mind.
Refleksi Bagi Forum Academia NTT;  FAN Selenggarakang Seminar Kesehatan Ibu dan Anak; Forum Academia NTT kembali memberikan award; Willy Gaut 2007 Membaca NTT
Academia Award  PK 21/12-2007); Pos Kupang, Sabtu 19 Desember 2008 Dawan, Malelak dan Meta Raih NTT Academia Award

KUPANG, PK -- Tiga orang putera-putri NTT yang berkarya di tiga bidang berbeda berhasil meraih NTT Academia Award 2008 yang diumumkan pada Malam Anugerah NTT Academia
Award di aula Susteran RVM Walikota Baru Kupang, Jumat (19/12/2008) malam.  Penghargaan ini merupakan apresiasi tertinggi dari Forum Academia NTT (FAN) yang beranggotakan
sekitar 543 orang anak NTT yang tersebar di berbagai belahan dunia.
Tiga orang itu adalah Siprianus Paulus Dawan yang meraih NTT Academia Award kategori I (bidang sains, basic science/engineering ), Zet Malelak yang meraih NTT Academia Award
kategori II (bidang pembangunan pertanian, perkebunan, kelautam), dan Yovita Meta Bastian yang meraih NTT Academia Award kategori III (bidang humaniora, sastra, budaya,
sosial/politik) .
Siprianus Dawan yang mengembangkan kolektor gerak surya  (alat untuk menyuling air laut menjadi air tawar) mengungguli dua nominee pada kategori I, yakni Julian A.W Purba dan Samuel
Sampe. Keduanya murid SD Kristen Tunas Bangsa dan SDK St. Maria Assumpta Kupang, peraih dua medali emas Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Makassar, Agustus lalu.
Zet Malelak yang berhasil membawa warga Dusun Uel, Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, berswasembada jagung bahkan surplus jagung  unggul atas
Wilhelmus Mimi yang mengembangkan teknologi 'sambung samping' pada pohon kakao di Desa Gere, Kecamatan Koting- Kabupaten Sikka, dan Orpha Ruth Naomi Sir yang membawa
siswa-siswi SMPN 3 Alor meraih juara I nasional  lomba inovator muda yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dengan karya ilmu stik ikan belo-belo dan es krim labu
kuning.
Peraih award kategori III, Yovita Meta Bastian yang menduniakan tenun ikat Biboki unggul atas Jeremias Pah, pengembang musik sasando, dan tiga siswi SMP Terbuka Wedomu-Kabupaten
Belu, Dominggas Soi Bere, Armince Theresia Asa dan Yosefina Koly Loi.
Para pemenang mendapat trofi, piagam penghargaan dan bonus berupa uang masing-masing Rp 3 juta. Sementara para nominator mendapat piagam penghargaan dan bonus uang.

Penghargaan Pertama di NTT

PERAIH NTT Award 2008 kategori II, Ir. Zet Malelak dalam sambutan kemenangannya mengatakan, penghargaan itu merupakan pertama dari pihak lain, meskipun kerja kerasnya bersama
waga Dusun Uel tidak untuk mendapat menghargaan. "Ini baru pertama saya mendapat penghargaan. Terima kasih untuk Forum Academia NTT,"  ujarnya.
Dia juga menyampaikan puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang telah memberinya kesempatan untuk meraih kemenangan ini. Dia menyampaikan penghargaan kepada dua
nominator kategori II, Orpha Naomi Sir dan Wilhelmus Mimi. Dia memilih mengembangkan jagung di Dusun Uel karena jagung merupakan makanan pokok orang NTT. Dia ingin orang NTT
tidak melupakan masa lalunya yang biasa mengonsumsi jagung.

Yovita Meta, peraih NTT Academia Award kategori III, mengatakan, sepanjang perjalanan karyanya, dia sudah mendapat penghargaan Prince Claus Award, namun ia belum pernah
mendapat penghargaan di NTT.

"Saya sudah ke mana-mana, tapi akhirnya di rumah saya sendiri pun saya dihargai. Saya takut, saya mendapat penghargaan di luar, tapi orang di NTT tidak mengenal saya," katanya.

Yovita hendak mendedikasikan penghargaan diraihnya bagi seniman-seniman tenun ikat yang tidak pernah kenal menyerah dalam mempertahankan, melestarikan dan mengembangkan tenun
ikat di Flobamora.

Di tempat terpisah, nominator kategori II, Wilhelmus Mimi asal Sikka mengatakan, kerja kerasnya membangun kebun kakao dan membantu petani lainnya di Sikka belum pernah mendapat
penghargaan dari pemerintah. Menurutnya, penghargaan ini merupakan pertama dan membuatnya bangga dan senang.

Sebelumnya, peraih NTT Academia Award kategori I, Siprianus Dawan menyampaikan terima kasih kepada FAN yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Dia juga berterima kasih kepada
kedua orangtuanya, para dosen pembimbing dan wartawan yang yang telah mempublikasi karyanya. (alf)
Copyright © 2007-2012 IITS Publications. All rights reserved
Sumbangan NTT Academia Award 2012 masih di
Buka. Berikut adalah rekening untuk sumbangan
NTT Academia Award Tahunan:

BCA Cabang Kupang
Benef: Ha'i Raga Lawa/Syalomi Natalia MA
No account: 3140483612
Swift Code: CENAIDJA

BNI Cabang Kupang: Dominggus Elcid Li Bank BNI
Kantor Cabang Kupang No.Rekening 0268594237
NTT Academia Awardee 2011.
  • Maria Loretha, Inovasi Bank Benih Lokal, Flores Timur
  • John Ndolu, Kategori Inovasi Pembangunan: Gagasan dan tindaknnya dalam hal revitalisasi budaya yakni penyederhanaan pesta pora dan membuat inovasi Tu’u pendidikan
    (pengumpulan dana bersama untuk biaya kuliah anak) di Kabupaten Rote
  • Agus Dapaloka adalah seorang guru bahasa dan sastra Indonesia pada SMAK Andaluri, Waingapu. Agus meraih NTT Academia Award tahun 2011 untuk kategori Humaniora dan
    inovasi sosial budaya karena telah mengubah pola pikir terhadap wanita melalui sebuah buku novelnya yang berjudul “Perempuan itu Bermata Saga”
  • Bobby Koamesah, Dokter dan dosen Fakultas kedokteran Undana Kupang yang punya hobi beternak babi berhasil meraih pengghargaan untuk kategori
    Enterpreneurship/kewirausahaan. Dokter Boby berhasil mengembangkan bibit babi unggul dan pakan ternak murah tapi berkualitas.

News: Ibu Rumah Tangga Raih NTT Academia Award 2011 (
Pos Kupang)
Pelopor Bank Benih Flores Timur Raih NTT Academia Award
(Sergap NTT)

NTT Academia Awardee 2010
  • Aliansi Masyarakat Peduli Ternak (Geng Motor iMuT) Inovator teknologi terapan dengan memanfaatkan limbah ternak dan limbah industri rumah tangga menjadi biogas.
  • Pdt. Sefnat Sailana, S.Th Motivator Pelestarian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air di Desa Apui, Kabupaten Alor.
  • *Pater Robert Ramone, CSsR Melestarikan dan Menduniakan Kekayaan Alam dan Budaya Sumba

NTT Academia Awardee 2009
  • Sr.Dr. Susi Susilawati Penelitian tentang pengelolaan air hujan untuk pertanian di daerah kering dan pulau-pulau kecil (Pulau Sabu Raijua)
  • Yie Gae Tjie Pengusaha Aneka Kerajinan Flores dan seorang Motivator dan Inspirator bagi masyarakat Kota Maumere
  • Siswi SMP Terbuka Oelnasi-Amanatun Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), atas nama Viktoria Nabut, Himerti Sela, dan Marces Snae, kategori II Juara I Lomba
    Ketrampilan Menenun Tingkat Nasional mewakili Nusa Tenggara Timur

NTT Academia Awardee 2008
  • Siprianus Paulus Dawan yang meraih NTT Academia Award kategori I (bidang sains, basic science/engineering ),
  • Zet Malelak yang meraih NTT Academia Award kategori II (bidang pembangunan pertanian, perkebunan, kelautam),
  • Yovita Meta Bastian yang meraih NTT Academia Award kategori III (bidang humaniora, sastra, budaya, sosial/politik) .
Pemenang NTT Academia Award 2007

Untuk tahun 2007, sebagai pemenang “NTT Academia Award” adalah:
Kategori I: Sains/basic science/engineering

Pemenang Perdana 2007 adalah Lembaga Politeknik Negeri Kupang atas dua prestasi nasional yang diraih oleh Politeknik Negeri Kupang

Saudara Kusa Bill Noni Nope M.T., dosen Politeknik Negeri Kupang yang secara kolektif bersama Tim Mahasiswa Paska Sarjana Unpar berhasil meraih juara I  Simposium IX Forum Studi
Transportasi Antar Perguruan Tinggi. dan Tim Robotika“PNK Smart Future” Mahasiswa Politeknik Negeri Kupang yang dengan swadaya melakukan inovasi teknologi robotika yang masuk
dalam 40 besar kelompok finalis dari 200 peserta dalam lomba inovasi robotika di ITS, Surabaya tepatnya Juli 2007, sesungguhnya momentum untuk membangun kepercayaan diri Academia
NTT. Walaupun tidak masuk dalam 8 besar, kami melihat pada inisiatif dan ke-swadayaan dalam mengikuti lomba. Bill Gates yang 30 tahun lalu bermimpi disetiap rumah akan ada
komputer, kini memimpikan abad 21 sebagai abad robotika, di mana, nantinya harga robot akan sebesar harga laptop saat ini. NTT tidak harus ketinggalan dibidang ini. Apresiasi ini hendak
mendorong akademisi NTT untuk terus berinovasi, dan tiap inovasi dihargai.

Kategori II: studi pembangunan/pertanian/ peternakan/ perikanan / perkebunan dsb.

Pemenang Perdana 2007 adalah Tim pelajar SMUN 2 Kupang“Pengaruh Pembuatan Kapur terhadap Peningkatan Kerusakan Terumbu Karang”  atas papernya berjudul dalam “Musyawarah
Nasional Terumbu Karang Coremap II di Jakarta, 10 September 2007. Pelajar dimaksud adalah Sdri. Gaya Kristina M Puu Heu, Jefry Tuan (18), dan Alyan M Sioh (18) bersama Ibu
Pembingbing Marselina Tua. Lomba diadakan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) guna memopulerkan kecintaan remaja terhadap
bahari. Tim Kristina menyisihkan 140 makalah di tingkat nasional.
Tahun 2012, NTT Academia Award genap memasuki usia yang ke VI. Pertanyaan dasar yang kembali ditanyakan oleh para penggagas award ini
ketika bertemu sehari setelah peringatan 17 Agustus lalu adalah: Sejauhmana kualitas NTT Academia Award masih bisa dipertahankan?
Masihkah NTT Academia Award menyasar calon terbaik? Apakah kita sedang bergerak ke arah itu?Jika tidak, apa yang harus kita lakukan? ’
Kegelisahan yang tersirat dalam pertanyaan-pertanyaan ini merupakan bukti keinginan untuk maju dan senantiasa mempersembahkan yang
terbaik  dalam setiap proses yang ditempuh. Hal ini yang menjadi pegangan bagi para sukarelawan yang tergabung dalam tim kerja tahun ini.

Pada awalnya "NTT Academia Award" diadakan sebagai wujud penghargaan tahunan yang hendak dicitrakan dan dimaknai sebagai penghargaan
prestasi tertinggi di bidang pendidikan maupun inovasi dalam rangka mempercepat pembangunan Provinsi NTT. Singkatnya, NTT Academia
Award diibarat-kan sebagai “Hadiah Nobel" alternatif bidang pembangunan di wilayah NTT.  Award ini awalnya hadir dalam diskusi-diskusi lepas
yang diadakan oleh komunitas warga NTT yang aktif di mailing list NTT Academia.

Namun, seiring berjalannya waktu, NTT Academia Award tak hanya menjadi ukuran bagi warga NTT saja tetapi juga menjadi acuan dan
referensi awal bagi para pemberi penghargaan maupun pemberi award bertaraf nasional maupun internasional untuk menjaring warga berprestasi
dari NTT. Setidaknya ini merupakan pengakuan dari beberapa penerima NTT Academia Award tentang asal usul mereka tampil di arena yang
lain. Ternyata NTT Academia Award memang memiliki andil bagi mereka untuk muncul di orbit yang lain.

Tema NTT Academia Award 2012 kali ini mengangkat ’Berpengetahuan dan Berdikari di NTT’. Tema ini merupakan hasil refleksi tentang
pentingnya usaha berpengetahuan sebagai elemen inti dalam usaha berdikari (self-resilience) di NTT.

Salah satu karakter khas yang dimilikki oleh NTT Academia adalah penghargaan ini merupakan bakti suka rela oleh siapa pun yang peduli
terhadap para inovator yang berkarya dan peduli terhadap NTT. Contohnya, pada Award 2007 sampai 2011 yang lalu, Forum Academia NTT
tidak hanya mendapat dukungan dari jaringan warga NTT di berbagai penjuru dunia, tetapi juga didukung penuh oleh rekan-rekan Pers. NTT
Academia Award adalah sejenis yang diberikan berdasarkan arisan skala provinsi yang  dilakukan oleh anak negeri. Dari sisi ini sejak awal
kemandirian dan indipenden merupakan dua kata kunci yang melatari pemberian award ini.

Secara khusus Forum Academia NTT berharap bahwa usulan para nominator itu berasal dari: petani, nelayan, mahasiswa, pelajar, akademisi,
guru, seniman, wartawan, rohaniwan, filsuf, dan pihak manapun yang dengan caranya telah berkontribusi bagi akselerasi pembangunan NTT.
Sedangkan kriteria penilaian NTT Academia Award adalah revelansinya bagi permasalahan dan pembangunan NTT, daya cipta dan inovasi,
tingkat representasi dan pencitraan NTT, tingkat prestasi, visi penerima, serta inspirasi dari karya yang didapat.
Photo credit from left: Gerson Poyk (Ratman Aspari at baltyra.com); Trix Mali (www.sea-world-club.com); Ben Mboi (Wimar at flickriver.com); Wayan Mudita
(CRC Plant Biosecurity)
2012 NTT Academia Winners
Gerson Poyk
(Sastra dan Humaniora)
Maria Mediatrix Mali
(Social Entrepreuner)
Ben Mboi
(Lifetime Achievement)
I Wayan Mudita
(Science and Engineering)
Dr Aloysius Benedictus Mboi MPh - Lifetime Achievement – NTT Academia Award 2012.

Dalam konteks iklim global yang berubah dan ditengah kerisauan para academia dan pengambil kebijakan tentang proyek-proyek mitigasi
perubahan iklim tentang lemahnya kelembagaan formal (dalam hal ini sistim formal dan organisasi kepemerintahan), sosok Ben Mboi
tepat untuk membawa harapan bagi rakyat tentang pentingnya pemerintah dan bahwa pemerintah dapat menjadi alat yang efektif dan
efisien dalam membangun kesejateraan rakyat. Ditengah kegagalan proyek-proyek kehutanan seperti REDD (Reducing Emissions from
Deforestation and Forest Degradation), sosok Dr. Mboi menjadi simbol harapan bahwa bila anda memilih pemimpin yang tepat dan
percaya pada sistim, maka daerah yang kering dapat menjadi rimbun dan sejuk, sebagaimana diamini para tetua dari Alila di Alor.

Narasi tetang keberhasilan Ben Mboi ada di mana-mana, dari pelosok Flores hingga pegunungan tinggi di Timor Barat hingga pelosok
Alor. “Ketika saya tiba di sini tahun 1978 sebagai guru, daerah ini adalah daerah padang rumput yang gersang dan berbatu. Sering terjadi
kebakaran padang setiap tahunnya. Namun kemudian daerah ini berubah menjadi hutan Lamtoro, sejak Gubernur Ben Mboi mendorong
reboisasi lewat slogan Operasi Nusa Hijau. Sejak itu, kampong hutan kami menjadi hutan lamptoro.” Hal ini diutarakan Kepala Sekolah
SD Gunung di Desa Alila di Alor (Mail 2010; Han 2010 and Boli 2010). Pesan dari Alor di atas memberikan harapan bahwa “Pemerintah
dapat bekerja dan sukses dalam menciptakan keberlanjutan ekologi dan ekonomi pedesaan”. Cerita di atas juga merupakan konfirmasi atas
capaian Gubernur Ben Mboi dalam memimpin NTT 1978-1988 merupakan cerita inspiratif buat para pemimpin NTT masa kini maupun
calon pempimpin NTT masa mendatang. Ditengah-tengah kegersangan dan degradasi kualitas pempimpin NTT yang intelek, visioner,
determinasi kokoh dan personal yang integrative, kami generasi muda dari Forum Academia NTT secara bulat memutuskan bahwa Ben
Mboi, Gubernur NTT 1978-1988 sebagai penerima Lifetime Achievement untuk NTT Academia Award 2012. Di tangan Ben Mboi,
rakyat menyaksikan bahwa pemerintah dapat bekerja dan berhasil dalam berbagai sektor termasuk yang paling sulit seperti konservasi
lingkungan dan hutan melalui Operasi Nusa Hijau. Mantan Gubernur NTT 1978-1988 menunjukan ciri
smart leadership - model yang
hilang dari sebuah bentuk kepemimpinan yang ideal yang hilang saat ini dan sosoknya memberikan pesan bahwa NTT sedang kehilangan
pemimpin yang dibutuhkan ke depan. Biografi singkat:
Dr. Ben Mboi MPh.

Dr I Wayan Mudita: Pemenang NTT Academia Award 2012, Kategori Science and Engineering.

Pak Mudita sedang menyelesaikan studi S3 di Charles Darwin University, Darwin, NT, Australia” (Submitted). Penelitian PhDnya
berjudul “Community Biosecurity of Citrus in the Highlands of West Timor, Indonesia”. Fokus penelitian ini adalah pada peran
kebijakan pemerintah dalam era otonomi daerah dan perlunya pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi penyakit huanglongbing
(HLB) pada jeruk, khususnya jeruk keprok soe. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyebaran penyakit
huanglongbing, yang di
Indonesia dikenal dengan nama CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration), terjadi bukan hanya tersedianya lingkungan fisik yang
memadai, tetapi juga lingkungan sosial (kebijakan) yang mempermudah penyakit menyebar. Kedua, merintis penelitian mengenai peran
tumbuhan lokal dalam ketahanan pangan masyarakat NTT (seperti Lontar). Pak Wayan, sebagaimana beliau biasa di panggil para
kerabatnya, sudah 26 tahun mengabdi sebagai dosen di Faperta Undana, Kupang, NTT. Riset PhDnya membuka mata kita bahwa
masalah penyakit Huanglongbing (HBL) pada keberlanjutan produksi Citrus di pegunungan tinggi Timor Barat (terutama di Kabupaten
TTS dan TTU) berakar pada kebijakan yang tidak berdasarkan pada evidence based - salah satu papernya yang dipublikasikan berjudul
Crossing the community-government communication border in managing citrus biosecurity in West Timor, Indonesia”. Pak Mudita lahir
di Yehembang, Jembrana, Bali, 21 July 50an tahun lalu. S1  
crop protection dari Mataram University, Mataram, Indonesia.  Di tahun
1992 beliau mendapatkan MSc
agricultural and environmental sciences dari McGill University, Montreal, Canada. Pak Mudita sedang
menantikan hasil PhDnya dari Charles Darwin University, Australia. Biographi singkat
I Wayan Mudita PhD Cand.

Maria Mediatrix Mali – Pemenang NTT Academia Award 2012, Kategori Social and Policy Entrepreneur

Dengan jaringan yang luas, Trix yang pandai berbahasa Inggris dan German ini, berhasil menggalang dana untuk memberantas malaria dari
Flores melalui adavokasi dan penguatan kelompok masyarakat, baik di kalangan dasa wisma, kelompok basis umat dan sekolah-sekolah.
Dengan melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Trix dan Yaspem berhasil melalukan 72.000 pemeriksaan slide darah malaria di
enam kecamatan endemis malaria di Sikka dan berhasil mengobati 1.227 orang yang positif malaria saat itu juga. Trix berhasil
mendatangkan ahli-ahli lingkungan dari German untuk membantunya di Sikka. Tindakan memberantas jentik nyamuk di lagon-lagon yang
luas dengan BTI (Bacylus Thuringensis Israelensis). Trix juga melibatkan pengusaha yang menyediakan alat berat untuk membuka lagon-
lagon yang tergenang agar tidak menjadi sarang nyamuk Anopheles. Tidak hanya pengusaha, anggota brimob, polisi dan tentara pun
terlibat dalam gerakan membuka lagon. “Memberantas malaria harus komprehensif dan melibatkan semua unsur masyarakat”.

Karena itulah Trix tidak mau bekerja sendiri. Trix Mali melalui Yaspem juga mencari dana untuk melatih para mikroskpist malaria di
Sikka. “Saya sangat prihatin dengan kualitas pemeriksaan malaria di Sikka. Sikka memiliki error rate kedua tertinggi di NTT yaitu sekitar
38%. Karna itu, dengan bantuan mikroskopist ahli dari Kemenkes RI di Jakarta, kami bertekad untuk memperbaiki kualitas pemeriksaan
malaria di Sikka. Kami telah melatih tenaga mikroskopist dari 14 Puskesmas di Sikka. Saat ini bahkan kami sudah memiliki  “teaching
mikroskopist”. Kami bertekad untuk menjadikan Sikka sebagai Pusat Cross-checker Malaria untuk daratan Flores”. Biographi
Trix Mali

Gerson Poyk - Pemenang NTT Academia Award 2012, Kategori Sastra dan Humaniora

Gerson Poyk adalah sastrawan Indonesia yang nyaris tidak dikenal di NTT, kampung halamannya sendiri. Berawal dari guru Nusantara,
Gerson kemudian memilih menjadi jurnalis, sekaligus sebagai sastrawan. Pada tahun 1989 ia menerima hadiah sastra ASEAN untuk Sang
Guru (1972). Di bidang jurnalistik Gerson adalah penerima hadiah Adinegoro, penghargaan bergengsi yang dikeluarkan PWI, pada tahun
1985 dan 1986. Beliau juga penerima Sea Write Award (1989), Lifetime Achivement Award Kompas dan Anugerah Kebudayaan 2011
dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas jasanya di bidang sastra dan budaya.

Karya novel-novelnya “antara lain”: Hari-Hari Pertama (1964), Sang Guru(1971), Jerat (1978) Cumbuan Sabana (1979), Giring-Giring
(1982), Doa Perkabungan (1987), Poti Wolo (1988), Negeri Lintasan Petir (2009), Sang Sutradara dan Wartawati Burung (2009), Tarian
Ombak (2009).   Sedangkan Karya kumpulan cerpennya “antara lain” Matias Akankari (1972), Oleng-Kemoleng & Surat-Surat Cinta
Rajagukguk (1975), Nostalgia Nusa Tenggara (1976), Jerat (1978), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requiem untuk seorang perempuan
(1983), Mutiara di Tengah Sawah (1984), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988), dan Poli Woli (1988).   

Di tahun 2012, karya Gerson Poyk mulai diperkenalkan kembali di NTT. Naskah Teater-nya “Ratu Balonita” dipentaskan ulang oleh
para awak teater yang tergabung dalam Rumah Poetika.  Sastrawan kelahiran Namodale, Rote pada tanggal 16 Juni 1931 meskipun tak
muda lagi, masih mempertahankan vitalitas dalam ber-kata-kata. Karya masih mengalir dari jarinya.
Biografi Singkat Gerson Poyk.
Kategori Penghargaan tahun 2012 dibuat berbeda dari tahun-tahun sebelum terutama
dalam hal kategori dan kriteria pemenang.
Foto dari kiri ke kanan: John Ndolu, Bobby Koamesah, Maria Loretha dan Agus Dapaloka
Maria Loretha,
Inovasi Bank Benih
Lokal, Flores Timur
John Ndolu,
Kategori Inovasi
Pembangunan
Agus Dapaloka
(Humaniora dan
Sosial Budaya)
Bobby Koamesah
(Enterpreneurship/
kewirausahaan)
2011 NTT Academia Winners